Menuntut ilmu itu, Hanya untuk Allah Ta’ala

 

Ikhlas, yaitu engkau berharap dengan ilmumu wajah Allah, engkau berharap dengan amal-amalmu, ibadah-ibadahmu wajah Allah Ta’ala.

 

Allah Ta’ala berfirman :

 

“Dan tidaklah mereka itu diperintahkan melainkan agar mereka menyembah Allah dan mengikhlaskan bagiNya agama.” (QS. Al Bayyinah : 5)

 

Dan juga didalam Allah Ta’ala berfirman :

 

Artinya : “ Barangsiapa berharap berjumpa dengan Rabbnya maka hendaklah dia beramal shalih dan jangan menyekutukan dalam peribadatan kepada-Nya dengan seorangpun.” (QS Al Kahfi : 110)

 

Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bersabda :

 

“ Sesungguhnya amalan-amalan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya seseorang itu akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan RasulNya maka sungguh dia telah berhijrah kepada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa yang akan berhijrah karena dunia yang akan didapatnya atau wanita yang akan dinikahinya maka dia telah berhijrah kepada apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari & Muslim dari hadit Umar bin Khatab)

 

Wahai penuntut ilmu, jika engkau menginginkan Allah Ta’ala memberikan manfaat kepadamu di dunia dan akhirat maka ikhlaskanlah niatmu karena Allah Ta’ala didalam menuntut ilmu. Berapa banyak ulama-ulama terdahulu ketika mereka menuliskan kitab-kitab mereka. Mereka tuliskan untuk pertama kali adalah mengikhlaskan niat dalam semua ibadah. Sebagai contohnya adalah Al Imam Bukhari ketika beliau menulis kitab Al Jami’us Shahih beliau memulai dengan kitab “Bad-u al wahyu (permulaan wahyu turun) dan beliau mulai dengan hadits : innamal a’maalu binniyat” untuk mengingatkan kepada para penuntut ilmu dan ulama agar mengikhlaskan niatnya hanya untuk Allah Ta’ala semata. Karena sebuah amalan yang tidak diiringi dengan niat ikhlas karena Allah Ta’ala maka akan ditolak olehNya.

 

Begitu juga dengan apa yang telah dilakukan oleh Imam An Nawawi didalam kitabnya Riyadhus Shalihin, Al ‘Arbain An Nawawi, Al Adzkar, beliau memulai dengan hadits : “Innamal a’maalu bin niyat wainnamaa likullimri in maa nawaa”. Begitu juga yang dilakukan oleh Al Maqdisi di dalam kitabnya Umdatul Ahkam, beliau memulai dengan hadits Umar bin Khattab : “Innamal a’maalu binniyaat”. Semua ini mengingatkan kepada penuntut ilmu yang telah diberikan taufiq dijalanNya agar mengikhlaskan seluruh amalan hanya untukNya.

 

Berhati-hatilah kamu dari sifat riya’ (pamer) dan  sum’ah(memperdengarkan amalan ingin dipuji) dan cinta popularitas. Carilah dengan amalanmu wajah Allah Ta’ala dan jika engkau mengikhlaskan niat untuk Allah Ta’ala bergembiralah dengan pahala yang besar. Jika engkau tidak mengikhlaskan niat untuk Allah Ta’ala, kalaupun engkau menginfakan emas sebesar gunung Uhud dengan landasan riya’ (ingin pamer) atau sum’ah niscaya Allah akan menjadikannya sia-sia bagaikan debu yang berterbangan.

 

Demikianlah seperti apa yang telah digambarka oleh Allah Ta’ala didalam firmanya :

 

Artinya :“Dan kami menampakan apa yang mereka telah lakukan dari amalan, dan Kami jadikan amalan tersebut bagaikan debu berterbangan.” (QS. Al Furqon : 23)

 

Dan jikalau engkau berinfak walaupun hanya dengan setengah dari kurma namun engkau lakukan hanya karena mengharap wajah Allah Ta’ala, maka akan dibalas olehNya pada hari kiamat sebesar gunung Uhud. Amalan yang sedikit jika disertai dengan niat yang ikhlas menjadi besar disisi Allah Ta’ala, dan amalan yang banyak tanpa disertai niat yang ikhlas tidak akan bernilai, bahkan akan menjadi debu yang berterbangan.

 

Inilah wasiat (nasehat) bagi para penuntut ilmu, bagi orang ‘alim, da’I kepada Allah dan setiap muslim. Dan kita meminta kepada Allah Ta’ala agar memberikan kepada kita rizki keikhlasan dalam ucapan dan perbuatan.

 

(Disarikan dari 20 Nasehat bagi Penuntut Ilmu)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *