Pengaruh Teman dalam Kehidupan

Penulis : Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc (Pengasuh Ponpes As Salafy Jember, Jawa Timur)

Selektif memilih teman merupakan prinsip utama dalam islam, Sejarahpun menunjukan bahwa para ulama terdahulu (as salafush shalih) benar-benar memerhatikan prinsip ini. Karena sosok teman sangat berpengaruh bagi kehidupan seseorang baik di dunia maupun di akhirat.

Di dalam shahih al Bukhari (no. 3742) disebutkan bahwa Alqamah Rahimahullahu seorang tabi’in yang mulia berkisah : “ Ketika aku masuk negeri Syam, maka aku langsung menuju masjid dan shalat dua rakaat. Kemudian kupanjatkan sebuah doa : ‘Ya Allah berilah aku kemudahan untuk mendapatkan teman yang baik (di negeri ini)’. Usai berdoa kudatangi sekelompok orang yang sedang duduk-duduk dan turut bergabung bersama mereka. Lalu datanglah seorang syaikh dan duduk di sebelahku. Aku bertanya kepada mereka,’Siapakah orang ini?’ Mereka menjawab :’Beliau adalah Abu Darda’ (salah seorang sahabat Nabi)’. Maka aku katakana kepada beliau,’Aku telah berdoa kepada Allah Ta’ala agar diberi kemudahan untuk mendapatkan teman yang baik (dinegeri ini). Sungguh Allah Ta’ala telah memudahkanku untuk bertemu denganmu.’Abu Darda’ berkata : ‘Dari manakah engkau’. Maka kukatakan : ‘Aku dari negeri Kufah’.”

Selektif memilih teman merupakan kewajiban bagi setiap insan muslim. Asy Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullahu berkata : “Memerhatikan teman merupakan kewajiban setiap insan muslim. Jika mereka itu orang-orang yang buruk, maka hendaknya dijauhi, karena (penyakit) mereka itu lebih kuat penularannya daripada kusta. Atau jika mereka itu teman-teman yang baik, yang senantiasa memerintahkan kepada kebaikan, mencegah (anda) dari kemungkaran dan membimbing kepada pintu-pintu kebaikan, bergaullah (dengan mereka)” (Al Qaulul Mufid Syarh Kitabut Tauhid I/224)

Selektif memilih teman harus diupayakan sejak dini. Karena pergaulan di masa muda sangat menentukan kelanjutan hidup pada fase-fase berikutnya. Al Imam Ahmad bin Hanbal berkata : “Jika engkau melihat seorang pemuda di awal pertumbuhannya bersama ahlus sunnah wal jama’ah, maka harapkanlah kebaikannya (dikemudian hari). Jika engkau melihat di awal pertumbuhannya bersama ahlul bid’ah, maka berputusasalah akan kebaikannya (dikemudian hari).”  (Al Adab Asy Syar’iyyah karya Al Iman Ibnu Muflih, 3/77)

Tak kalah pentingnya pula Selektif memilih teman saat menuntut ilmu. Al Imam Badruddin Ibnu Jama’ah Al Kinani berkata : ‘Bila dia (seorang penuntut ilmu) membutuhkan teman, hendaknya memilih orang yang shalih, beragama, bertakwa, wara’, cerdas, banyak kebaikannya lagi sedikit keburukannya, santun dalam bergaul, dan tak suka berdebat. Bila dia lupa, teman tersebut bisa mengingatkannya. Bila dia butuh bantuan, teman tersebut siap membantunya. Dan bila dia sedang marah, maka teman tersebutpun menyabarkannya.” (Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim, hal. 83-84)

Teman adalah potret tentang jati diri seseorang. Bahkan ia sebagai barometer bagi agamanya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda : ““Seseorang tergantung agama teman akrabnya. Maka hendaknya salah seorang dari kalian memerhatikan siapa yang dijadikan sebagai teman akrab.” (HR. Abu Dawud dalam As-Sunan juz 2, hal. 293, At-Tirmidzi dalam As-Sunan juz 2, hal. 278)

Sahabat Abdullah bin Mas’ud berkata: “Seseorang akan berjalan dan berteman dengan orang yang dicintainya dan sejenis dengannya.” (Al-Ibanah karya Al-Imam Ibnu Baththa, juz 2 hal. 476)1
Al-Imam Qatadah berkata: “Demi Allah, sungguh tidaklah kami melihat seseorang berteman kecuali dengan yang sejenisnya. Maka bertemanlah dengan orang-orang  shalih dari hamba-hamba Allah, semoga kalian senantiasa bersama mereka atau menjadi seperti mereka.” (Al-Ibanah karya Al-Imam Ibnu Baththah, 2/480)2

Ketika Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri datang ke Kota Bashrah dan melihat posisi Ar-Rabi’ bin Shubaih yang tinggi di tengah umat, beliau pun menanyakan prinsip agamanya. Maka orang-orang menjawab: “Prinsip agamanya tidak lain adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.” Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri bertanya lagi: “Siapakah teman-teman dekatnya?” Mereka menjawab: “Orang-orang Qadariyyah (pengingkar takdir, pen.).” Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri pun berkata: “Kalau begitu dia adalah seorang qadari.” (Al-Ibanah karya Al-Imam Ibnu Baththah t, 2/453)

Mewaspadai teman yang buruk

Teman yang buruk sangat berbahaya bagi kehidupan seseorang baik di dunia maupun di akhirat. Karena bersahabat dengannya tidaklah membuahkan apapun kecuali penyesalan:

“Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya Dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku, dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.” (Al-Furqan: 28-29)

Bahkan menurut Al-Imam Ahmad bin Hanbal, berteman atau bermajelis bersama ahlul bid’ah dan orang-orang yang menyimpang dengan alasan untuk mengembalikan mereka kepada al-haq tidak dibenarkan juga. Karena mereka akan menyampaikan kerancuan-kerancuan berpikirnya (syubhat) dan enggan untuk kembali kepada al-haq. (Lihat Al-Ibanah 2/472)

Beberapa kasus tersesat karena teman

Mungkin di antara pembaca ada yang bertanya: “Adakah contoh kasus tentang orang-orang yang tersesat (agamanya) karena teman?” Maka jawabnya adalah: “Ada, bahkan banyak.” Diantaranya adalah:

1. Abu Thalib terhalang dari Islam karena pengaruh temannya.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata: “Betapa bahayanya teman yang buruk terhadap seseorang. Kalau tidak ada pengaruh dari dua orang tersebut (Abu Jahl dan Abdullah bin Abu Umayyah bin Al-Mughirah, pen.) bisa jadi Abu Thalib menerima ajakan Nabi n untuk mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallaah dan wafat sebagai pemeluk agama Islam.” (Al-Qaulul Mufid Syarh Kitabit Tauhid 1/224)

2. Abu Dzar Al-Harawi terseret ke dalam madzhab Asy’ari karena kedekatannya dengan Al-Qadhi Abu Bakr Ath-Thayyib

Bermula dari pertemuan pertama di Kota Baghdad, kemudian disusul dengan pertemuan kedua, dan demikian seterusnya. Hingga akhirnya terseret ke dalam madzhab Asy’ari, sebagaimana yang dinyatakan Abu Dzar Al-Harawi sendiri: “Akhirnya aku mengikuti madzhabnya.”

3. ‘Imran bin Hiththan menjadi khawarij karena pengaruh istrinya

Al-Imam Ya’qub bin Syaibah berkata: “Dia berjumpa dengan sekelompok sahabat Nabi, namun di akhir hayatnya terseret ke dalam akidah Khawarij. Sebabnya adalah bahwa sepupu wanita/anak pamannya (yang bernama Hamnah, pen.) yang memiliki akidah sesat, akidah Khawarij, maka dia menikahinya dengan tujuan mengembalikannya ke dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Akan tetapi, justru sang istrilah yang menyeretnya ke dalam akidah Khawarij.”

Para pembaca yang mulia, belajar dari uraian di atas, maka sudah seharusnya bagi kita semua selektif dan berhati-hati dalam memilih teman. Mewaspadai teman yang buruk dan berteman dengan teman yang baik. Mengingat, seorang teman itu sangat besar pengaruhnya bagi kehidupan beragama kita.
Wallahu a’lam bish-shawab Sumber Majalah Asysyariah vol. V/no. 59/1431/2010

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *